Soekarno
PROFIL BERITA FOTO
______________________________________
Soekarno (ER, EYD: Sukarno, nama lahir: Koesno Sosrodihardjo) (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 6 Juni 1901 – meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun) adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945–1966.Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno adalah yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dan ia sendiri yang menamainya.
Nama : Lengkap : Soekarno
Alias : Bung Karno | Pak Karno
Profesi : -
Agama : Islam
Tempat Lahir : Surabaya, Jawa Timur
Tanggal Lahir : Kamis, 6 Juni 1901
Zodiac : Gemini
Warga Negara : Indonesia
Ayah : Raden Soekemi Sosrodihardjo
Anak : Megawati Soekarnoputri, Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, Guntur
Soekarnoputra, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, Taufan
Soekarnoputra , Bayu Soekarnoputra, Totok Suryawan, Kartika Sari Dewi Soekarno,
Sukmawati Soekarnoputri
Ibu : Ida Ayu Nyoman Rai
Istri : Oetari, Inggit Garnasih, Fatmawati, Kartini Manoppo, Ratna Sari Dewi, Haryati,
Yurike Sanger, Heldy Djafar, Fatmawati Soekarno
BIOGRAFI
Ir. Soekarno atau yang biasa dipanggil Bung Karno yang lahir di Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 6 Juni 1901 dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dengan Ida Ayu Nyoman Rai.
Ayah Soekarno adalah seorang guru. Raden Soekemi bertemu dengan Ida Ayu ketika dia mengajar di Sekolah Dasar Pribumi Singaraja, Bali.
Soekarno hanya menghabiskan sedikit masa kecilnya dengan orangtuanya hingga akhirnya dia tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo di Tulung Agung, Jawa Timur.
Soekarno pertama kali bersekolah di Tulung Agung hingga akhirnya dia ikut kedua orangtuanya pindah ke Mojokerto.
Di Mojokerto, ayahnya memasukan Soekarno ke Eerste Inlandse School. Di tahun 1911, Soekarno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS) untuk memudahkannya diterima di Hoogere Burger School (HBS).
Setelah lulus pada tahun 1915, Soekarno melanjutkan pendidikannya di HBS, Surabaya, Jawa Timur. Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para tokoh dari Sarekat Islam, organisasi yang kala itu dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto yang juga memberi tumpangan ketika Soekarno tinggal di Surabaya.
Dari sinilah, rasa nasionalisme dari dalam diri Soekarno terus menggelora. Di tahun berikutnya, Soekarno mulai aktif dalam kegiatan organisasi pemuda Tri Koro Darmo yang dibentuk sebagai organisasi dari Budi Utomo. Nama organisasi tersebut kemudian Soekarno ganti menjadi Jong Java (Pemuda Jawa) pada 1918.
Di tahun 1920 seusai tamat dari HBS, Soekarno melanjutkan studinya ke Technische Hoge School (sekarang berganti nama menjadi Institut Teknologi Bandung) di Bandung dan mengambil jurusan teknik sipil.
Saat bersekolah di Bandung, Soekarno tinggal di kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota Sarekat Islam dan sahabat karib Tjokroaminoto. Melalui Haji Sanusi, Soekarno berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo dan Dr Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.
Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung yang diinspirasi dari Indonesische Studie Club (dipimpin oleh Dr Soetomo). Algemene Studie Club merupakan cikal bakal berdirinya Partai Nasional Indonesia pada tahun 1927.
Bulan Desember 1929, Soekarno ditangkap oleh Belanda dan dipenjara di Penjara Banceuy karena aktivitasnya di PNI. Pada tahun 1930, Soekarno dipindahkan ke penjara Sukamiskin. Dari dalam penjara inilah, Soekarno membuat pledoi yang fenomenal, Indonesia Menggugat.
Soekarno dibebaskan pada tanggal 31 Desember 1931. Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI.
Soekarno kembali ditangkap oleh Belanda pada bulan Agustus 1933 dan diasingkan ke Flores. Karena jauhnya tempat pengasingan, Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional lainnya.
Namun semangat Soekarno tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hasan. Pada tahun 1938 hingga tahun 1942 Soekarno diasingkan ke Provinsi Bengkulu. Soekarno baru benar-benar bebas setelah masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.
Di awal kependudukannya, Jepang tidak terlalu memperhatikan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia hingga akhirnya sekitar tahun 1943 Jepang menyadari betapa pentingnya para tokoh ini. Jepang mulai memanfaatkan tokoh pergerakan Indonesia dimana salah satunya adalah Soekarno untuk menarik perhatian penduduk Indonesia terhadap propaganda Jepang.
Akhirnya tokoh-tokoh nasional ini mulai bekerjasama dengan pemerintah pendudukan Jepang untuk dapat mencapai kemerdekaan Indonesia, meski ada pula yang tetap melakukan gerakan perlawanan seperti Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifuddin karena menganggap Jepang adalah fasis yang berbahaya.
Soekarno sendiri mulai aktif mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, di antaranya adalah merumuskan Pancasila, UUD 1945 dan dasar-dasar pemerintahan Indonesia termasuk merumuskan naskah proklamasi Kemerdekaan.
Pada bulan Agustus 1945, Soekarno diundang oleh Marsekal Terauchi, pimpinan Angkatan Darat wilayah Asia Tenggara ke Dalat, Vietnam. Marsekal Terauchi menyatakan bahwa sudah saatnya Indonesia merdekan dan segala urusan proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah tanggung jawab rakyat Indonesia sendiri.
Setelah menemui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, terjadilah Peristiwa Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945. Para tokoh pemuda dari PETA menuntut agar Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, karena pada saat itu di Indonesia terjadi kevakuman kekuasaan.
Ini disebabkan karena Jepang telah menyerah dan pasukan Sekutu belum tiba. Namun Soekarno, Hatta dan beberapa tokoh lainnya menolak tuntutan ini dengan alasan menunggu kejelasan mengenai penyerahan Jepang.
Pada akhirnya,Soekarno bersama tokoh-tokoh nasional lainnya mulai mempersiapkan diri menjelang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Berdasarkan sidang yang diadakan oleh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) panitia kecil untuk upacara proklamasi yang terdiri dari delapan orang resmi dibentuk.
Pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia memplokamirkan kemerdekaannya. Teks proklamasi secara langsung dibacakan oleh Soekarno yang semenjak pagi telah memenuhi halaman rumahnya di Jl Pegangsaan Timur 56, Jakarta.
Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta dikukuhkan oleh KNIP.
Kemerdekaan yang telah didapatkan ini tidak langsung bisa dinikmati karena di tahun-tahun berikutnya masih ada sekutu yang secara terang-terangan tidak mengakui kemerdekaan Indonesia dan bahkan berusaha untuk kembali menjajah Indonesia.
Gencaran senjata dari pihak sekutu tak lantas membuat rakyat Indonesia menyerah, seperti yang terjadi di Surabaya ketika pasukan Belanda yang dipimpin oleh Brigadir Jendral A.W.S Mallaby berusaha untuk kembali menyerang Indonesia.
Rakyat Indonesia di Surabaya dengan gigihnya terus berjuang untuk tetap mempertahankan kemerdekaan hingga akhirnya Brigadir Jendral AWS Mallaby tewas dan pemerintah Belanda menarik pasukannya kembali. Perang seperti ini tidak hanya terjadi di Surabaya tapi juga hampir di setiap kota.
Republik Indonesia secara resmi mengadukan agresi militer Belanda ke PBB karena agresi militer tersebut dinilai telah melanggar suatu perjanjian Internasional, yaitu Persetujuan Linggajati.
Walaupun telah dilaporkan ke PBB, Belanda tetap saja melakukan agresinya. Atas permintaan India dan Australia, pada 31 Juli 1947 masalah agresi militer yang dilancarkan Belanda dimasukkan ke dalam agenda rapat Dewan Keamanan PBB, di mana kemudian dikeluarkan Resolusi No 27 tanggal 1 Agustus 1947, yang isinya menyerukan agar konflik bersenjata dihentikan.
Atas tekanan Dewan Keamanan PBB, pada tanggal 15 Agustus 1947, Pemerintah Belanda akhirnya menyatakan akan menerima resolusi Dewan Keamanan untuk menghentikan pertempuran.
Pada 17 Agustus 1947, Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Belanda menerima Resolusi Dewan Keamanan untuk melakukan gencatan senjata dan pada 25 Agustus 1947 Dewan Keamanan membentuk suatu komite yang akan menjadi penengah konflik antara Indonesia dan Belanda.
Setelah Pengakuan Kedaulatan (Pemerintah Belanda menyebutkan sebagai Penyerahan Kedaulatan), Presiden Soekarno kembali diangkat menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Mohammad Hatta diangkat sebagai perdana menteri RIS.
Karena tuntutan dari seluruh rakyat Indonesia yang ingin kembali ke negara kesatuan, maka pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS kembali diubah menjadi Republik Indonesia dimana Ir Soekarno menjadi Presiden dan Mohammad Hatta menjadi wakilnya.
Pemberontakan G30S/PKI melahirkan krisis politik hebat di Indonesia. Massa dari KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia) melakukan aksi demonstrasi dan menyampaikan Tri Tuntutan Rakyat (Tritura) yang salah satu isinya meminta agar PKI dibubarkan.
Namun, Soekarno menolak untuk membubarkan PKI karena menilai bahwa tindakan tersebut bertentangan dengan pandangan Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme).
Sikap Soekarno yang menolak membubarkan PKI kemudian melemahkan posisinya dalam politik. Lima bulan kemudian, dikeluarkanlah Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang ditandatangani oleh Soekarno dimana isinya merupakan perintah kepada Letnan Jenderal Soeharto untuk mengambil tindakan yang perlu guna menjaga keamanan pemerintahan dan keselamatan pribadi presiden.
Surat tersebut lalu digunakan oleh Soeharto yang telah diangkat menjadi Panglima Angkatan Darat untuk membubarkan PKI dan menyatakannya sebagai organisasi terlarang. MPRS pun mengeluarkan dua Ketetapannya, yaitu TAP No IX/1966 tentang pengukuhan Supersemar menjadi TAP MPRS dan TAP No XV/1966 yang memberikan jaminan kepada Soeharto sebagai pemegang Supersemar untuk setiap saat bisa menjadi presiden apabila presiden sebelumnya berhalangan.
Pada 22 Juni 1966, Soekarno membacakan pidato pertanggungjawabannya mengenai sikapnya terhadap peristiwa G30S. Pidato pertanggungjawaban ini ditolak oleh MPRS hingga akhirnya pada 20 Februari 1967 Soekarno menandatangani Surat Pernyataan Penyerahan Kekuasaan di Istana Merdeka.
Hari Minggu, 21 Juni 1970 Presiden Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta. Presiden Soekarno disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan kemudian dimakamkan di Blitar, Jawa Timur berdekatan dengan makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah kemudian menetapkan masa berkabung selama tujuh hari.
Ir Soekarno adalah seorang sosok pahlawan yang sejati. Dia tidak hanya diakui berjasa bagi bangsanya sendiri tapi juga memberikan pengabdiannya untuk kedamaian di dunia. Semua sepakat bahwa Ir Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Ir Soekarno adalah bapak bangsa yang tidak akan tergantikan.
Riset dan Analisa: Fathimatuz Zahroh
PENDIDIKAN
• Pendidikan sekolah dasar di Eerste Inlandse School, Mojokerto
• Pendidikan sekolah dasar di Europeesche Lagere School (ELS), Mojokerto (1911)
• Hoogere Burger School (HBS) Mojokerto (1911-1915)
• Technische Hoge School, Bandung (sekarang berganti nama menjadi Institut Teknologi Bandung) (1920)
PENGHARGAAN
• Gelar Doktor Honoris Causa dari 26 universitas di dalam dan luar negeri antara lain dari Universitas Gajah Mada, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Hasanuddin, Institut Agama Islam Negeri Jakarta, Columbia University (Amerika Serikat), Berlin University (Jerman), Lomonosov University (Rusia) dan Al-Azhar University (Mesir).
• Penghargaan bintang kelas satu The Order of the Supreme Companions of OR Tambo yang diberikan dalam bentuk medali, pin, tongkat, dan lencana yang semuanya dilapisi emas dari Presiden Afrika Selatan, Thabo Mbeki, atas jasa Soekarno dalam mengembangkan solidaritas internasional demi melawan penindasan oleh negara maju serta telah menjadi inspirasi bagi rakyat Afrika Selatan dalam melawan penjajahan dan membebaskan diri dari politik apartheid. Penyerahan penghargaan dilaksanakan di Kantor Kepresidenan Union Buildings di Pretoria (April 2005). ( Diambil dari harian Merdeka )
SOCIAL MEDIA
No Sosmed
Intelejen
Inggris, Berperan Dalam Jatuhnya Pemerintahan Soekarno
Kantor Luar Negeri Inggris
menggunakan “trik kotor” dalam ‘membantu menggulingkan Presiden Indonesia
Soekarno, pada tahun 1966. Selama 30 tahun, setengah juta orang telah tewas.

Pada musim gugur 1965,
Norman Reddaway (George Frank Norman Reddaway) seorang yang terpelajar dengan
karir yang bagus di Kantor Luar Negeri Inggris, mendapat brifing untuk suatu
misi khusus. Duta Besar Inggris untuk Indonesia saat itu, Sir Andrew Gilchrist,
baru saja mengunjungi London untuk berdiskusi dengan Kepala Dinas Luar Negeri,
Joe Garner.
Diskusi itu mengenai Operasi Rahasia (Covert
Operations) untuk melemahkan Sukarno, Presiden Indonesia yang merepotkan dan
berpikiran mandiri, ternyata tidak berjalan dengan baik. Lalu, Garner dibujuk
untuk mengirim Reddaway, pakar propaganda FO, untuk Indonesia.
Tugasnya:
“Untuk mengambil hati anti-Sukarno dalam “Operasi Propaganda” yang dijalankan oleh Kementerian Luar Negeri Inggris dan Dinas Rahasia M16. Garner memberikan Reddaway £100.000 poundsterling tunai “untuk melakukan apapun yang saya bisa lakukan untuk menyingkirkan Sukarno”, katanya. |
Kemudian Reddaway bergabung dengan “sebuah tim yang terdiri dari kelompok campuran” dari Kementerian Luar Negeri Inggris, M16, Departemen Luar Negeri dan CIA di Timur Jauh (Asia Timur), semua berjuang untuk menggulingkan Sukarno dalam difus dan cara-cara licik.
Selama enam bulan ke depan, ia dan rekan-rekannya akan menjalankan misi menjauhkan dan meretakkan teman dan kerabat yang bersekutu di rezim Sukarno, merusak reputasinya dan membantu musuh-musuhnya di militer.
Pada bulan Maret 1966 basis
kekuatan Sukarno mulai compang-camping dan ia dipaksa untuk menyerahkan
kekuasaan kepresidenan kepada Jenderal Suharto, sebagai panglima militer, yang
sudah menjalankan kampanye dengan pembunuhan massal terhadap dugaan komunisme.
Menurut Reddaway, penggulingan Sukarno adalah
salah satu “kudeta dan misi paling sukses” yang dilakukan oleh Kantor Luar
Negeri Inggris yang telah mereka dirahasiakan sampai sekarang.
Intervensi Inggris di Indonesia, disamping
operasi CIA yang “gratis”, menunjukkan seberapa jauh Kementerian Luar Negeri
siap untuk melakukan operasi rahasianya dalam mencampuri urusan negara lain
selama Perang Dingin.
britain secret propaganda warIndonesia sangat penting baik secara ekonomi dan strategis. Pada tahun 1952, AS mencatat bahwa jika Indonesia jauh dari pengaruh Barat, maka negara tetangganya seperti Malaya mungkin akan mengikuti, dan mengakibatkan hilangnya “sumber utama dunia karet alam, timah dan produsen minyak serta komoditas lainnya yang sangat strategis dan penting”.Ketika terjadi penjajahan oleh Jepang saat Perang Dunia Kedua di Indonesia, yang bagi orang Indonesia bahwa ini adalah sebuah periode lain yang dilakukan oleh pemerintahan kolonial, telah direvitalisasi gerakan nasionalis yang setelah perang, menyatakan kemerdekaan dan berkuasanya Republik Indonesia.
Ahmad Sukarno menjadi presiden pertama Indonesia. Kekhawatiran Barat tentang rezim Sukarno tumbuh karena kekuatan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang pada puncaknya beranggotakan lebih dari 10 juta, ini adalah partai komunis terbesar di luar negara komunis (non-komunis) di dunia.
Kekhawatiran dunia barat tidak dapat disembuhkan oleh kebijakan internal dan eksternal Sukarno, termasuk nasionalisasi aset Dunia Barat dan peran pemerintah untuk PKI.
britain secret propaganda warIndonesia sangat penting baik secara ekonomi dan strategis. Pada tahun 1952, AS mencatat bahwa jika Indonesia jauh dari pengaruh Barat, maka negara tetangganya seperti Malaya mungkin akan mengikuti, dan mengakibatkan hilangnya “sumber utama dunia karet alam, timah dan produsen minyak serta komoditas lainnya yang sangat strategis dan penting”.Ketika terjadi penjajahan oleh Jepang saat Perang Dunia Kedua di Indonesia, yang bagi orang Indonesia bahwa ini adalah sebuah periode lain yang dilakukan oleh pemerintahan kolonial, telah direvitalisasi gerakan nasionalis yang setelah perang, menyatakan kemerdekaan dan berkuasanya Republik Indonesia.
Ahmad Sukarno menjadi presiden pertama Indonesia. Kekhawatiran Barat tentang rezim Sukarno tumbuh karena kekuatan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang pada puncaknya beranggotakan lebih dari 10 juta, ini adalah partai komunis terbesar di luar negara komunis (non-komunis) di dunia.
Kekhawatiran dunia barat tidak dapat disembuhkan oleh kebijakan internal dan eksternal Sukarno, termasuk nasionalisasi aset Dunia Barat dan peran pemerintah untuk PKI.
Pada era awal Sukarno di tahun 60-an, masa ini
telah menjadi duri besar bagi Inggris dan Amerika. Mereka percaya ada bahaya
nyata bahwa Indonesia akan jatuh ke komunis. Untuk menyeimbangkan kekuatan
ketentaraan yang tumbuh, Sukarno menyelaraskan dirinya lebih dekat dengan PKI.
Indikasi pertama dari
ketertarikan Inggris dalam menghilangkan Sukarno muncul dalam sebuah memorandum
CIA dari tahun 1962. Perdana Menteri Macmillan dan Presiden Kennedy setuju
untuk “melikuidasi Presiden Sukarno, tergantung pada situasi dan kesempatan
yang tersedia”.
Permusuhan terhadap Sukarno diintensifkan oleh
keberatan Indonesia atas keberadaan “Federasi Malaysia”. Sukarno mengeluhkan
proyek ini sebagai “plot neo-kolonial” yang menunjukkan bahwa Federasi adalah
proyek Barat untuk mengekspansi tanah raja-raja Malon dengan cara mencomot
wilayah pulau Kalimantan dan penerusan pengaruh Inggris di wilayah tersebut.Tercatat dalam sejarah sebelum terjadi
penjajahan di wilayah Asia Tenggara oleh Inggris, Belanda, Portugis dan negara
imrelialis lainnya, Nusantara jauh lebih besar. Kini terkotak-kotak dan
terpisah sesuai dengan “bagi-bagi kue” diantara negara imperialis tersebut.
Niat Sukarno ingin
menyatukan kembali raja-raja yang dulunya bersatu padum kembali berjaya dalam
Republik Indonesia Raya (Greater Indonesia) atau Melayu Raya
Pada tahun 1963 keberatan Sukarno mengkristal
dalam kebijakan tentang “Konfrontasi Indonesia-Malon” yaitu sebuah
kebijaksanaan untuk
memutuskan hubungan
diplomatik dengan pihak Malon yang dianggap pro-
imperialis, dan segera
ditambah dengan intervensi militer tingkat rendah
oleh Indonesia.
Sebuah perang perbatasan yang berlarut-larut
dimulai sepanjang 700 mil di perbatasan antara Indonesia dan Malon di pulau
Kalimantan dan pihak Malon sempat kewalahan, lalu pihak mereka akhirnya dibantu
oleh Inggris dan juga dibantu Australia.
Sukarno tak rela,
saudara-saudara mereka (suku Dayak dan suku lainnya di Kalimantan) yang tinggal
di satu pulau, ternyata dibagi menjadi dua bagian, mereka sejatinya adalah
satu, satu saudara, dan tak boleh dipisahkan.
Dan sebenarnya memang begitulah yang terbaik
bagi mereka untuk menjadi satu, namun karena ada “tangan Inggris” di sana pada
saat menjajah, maka pulau yang terdiri dari para raja-raja Kalimantan tersebut
justru dibagi menjadi dua bagian.
Kalimantan
dibagi-bagi, dan pembagian daerah jajahan ini dilakukan oleh negara imperialis
setelah menguasai Kalimantan.
Dua
bagian itu adalah utara dan selatan, yang bagian utara menjadi
Kalimantan
Utara (bekas jajahan Inggris dan menjadi negara caplokan boneka Malon, karena
di dukung Inggris) dan wilayah Kalimantan Selatan (bekas jajahan Belanda dan
tetap menjadi Indonesia).
Jadi secara otomatis mental para raja-raja
Malon adalah memang bukan pejuang dan merupakan kaki-tangan Imperialis Inggris
sejak dulu hingga kini.
Menurut sumber-sumber Kementerian Luar Negeri Inggris, keputusan untuk menyingkirkan Sukarno telah diambil oleh pemerintah Konservatif Macmillan dan dilakukan selama pemerintahan partai buruh oleh Wilson pada tahun 1964.
Kementerian Luar Negeri Inggris telah bekerja sama dengan rekan-rekan Amerika mereka pada sebuah “rencana untuk menggulingkan Sukarno” yang masih bergolak.
Maka dibuatlah sebuah operasi rahasia dan strategi “perang psikologis” yang menghasut, berbasis di Phoenix Park, di Singapura, markas Inggris di kawasan itu.
Menurut sumber-sumber Kementerian Luar Negeri Inggris, keputusan untuk menyingkirkan Sukarno telah diambil oleh pemerintah Konservatif Macmillan dan dilakukan selama pemerintahan partai buruh oleh Wilson pada tahun 1964.
Kementerian Luar Negeri Inggris telah bekerja sama dengan rekan-rekan Amerika mereka pada sebuah “rencana untuk menggulingkan Sukarno” yang masih bergolak.
Maka dibuatlah sebuah operasi rahasia dan strategi “perang psikologis” yang menghasut, berbasis di Phoenix Park, di Singapura, markas Inggris di kawasan itu.
Tim intelijen M16 Inggris melakukan hubungan
dekat secara terus-menerus dengan elemen kunci dalam ketentaraan Indonesia
melalui Kedutaan Besar Inggris. Salah satunya adalah
Ali Murtopo, kemudian kepala intelijen Jenderal Suharto, dan petugas M16 juga
secara terus-menerus melakukan perjalanan bolak-balik antara Singapura dan
Jakarta.
Ali Murtopo berperan besar dalam melakukan modernisasi intelejen Indonesia. Ia
terlibat dalam operasi-operasi intelejen dengan nama Operasi Khusus (Opsus)
yang terutama ditujukan untuk memberangus lawan-lawan politik pemerintahan
Soeharto.
Pada tahun 1968, Ali
menggagas peleburan partai-partai politik, yang saat itu sangat banyak
jumlahnya, menjadi beberapa partai saja agar lebih mudah dikendalikan.
Hal ini kemudian terwujud pada tahun 1973
sewaktu semua partai melebur menjadi tiga partai: Golkar, PPP (penggabungan
partai-partai berbasis Islam), dan PDI (penggabungan partai-partai berbasis
nasionalis).
Pada tahun 1971, bersama Soedjono Hoemardhani,
asisten pribadi Soeharto, ia merintis pendirian CSIS (Centre for Strategic and
International Studies) yang merupakan lembaga penelitian kebijakan
pemerintahan.
Pada tahun 1972, ia menerbitkan tulisan
“Dasar-dasar Pemikiran tentang Akselerasi Modernisasi Pembangunan 25 Tahun”
yang selanjutnya diterima MPR sebagai strategi pembangunan jangka panjang
(PJP).
Dengan adanya rencana ini, berarti
pemerintahan baru Indonesia dibawah Suharto adalah sebuah rezim terencana, yang
telah merencanakan kepemimpinan selama 25 tahun ke depan!
Informasi Departemen Riset Kantor Luar Negeri
Inggris (The Foreign Office’s Information Research Department atau IRD) juga
bekerja dari Phoenix Park, Singapura guna memperkuat kerja intelijen M16 dan
ahli perang “psikologis militer”.
IRD didirikan oleh pemerintah Partai Buruh di Inggris pada tahun 1948 untuk melakukan “perang propaganda anti-komunis” melawan Soviet.
IRD didirikan oleh pemerintah Partai Buruh di Inggris pada tahun 1948 untuk melakukan “perang propaganda anti-komunis” melawan Soviet.
Tetapi dengan cepat justru IRD menjadi andalan
dalam berbagai operasi gerakan anti-kemerdekaan dalam usaha penurunan kolonial
dan imperialisme oleh Kerajaan Inggris (British Empire) oleh negara-negara yang
sedang dijajah, termasuk di utara pulau Kalimantan yang masih dipertahankan
oleh Inggris melalui Malaysia, hingga kini.
Pada
tahun 60-an, IRD memiliki staf di London sekitar 400 orang dan staf informasi
yang berada di seluruh dunia guna mempengaruhi liputan media yang menguntungkan
pihak Inggris.
Menurut Roland Challis,
koresponden BBC pada saat di Singapura, wartawan terbuka bagi manipulasi IRD,
karena ironisnya kebijakan Sukarno sendiri:
“Dengan cara yang aneh dan tetap menjaga keberadaan media dari luar negeri di Indonesia, Sukarno justru membuat mereka manjadi korban dari media resmi luar negeri tersebut karena hampir satu-satunya informasi penyadapan dan mata-mata yang bisa didapatkan adalah dari Duta Besar
“Dengan cara yang aneh dan tetap menjaga keberadaan media dari luar negeri di Indonesia, Sukarno justru membuat mereka manjadi korban dari media resmi luar negeri tersebut karena hampir satu-satunya informasi penyadapan dan mata-mata yang bisa didapatkan adalah dari Duta Besar
Inggris
di Jakarta
Kesempatan
untuk mengisolasi Sukarno dan PKI datang pada bulan Oktober 1965 ketika dugaan
percobaan kudeta oleh PKI adalah “dalih dari tentara” untuk menggulingkan
Sukarno dan membasmi PKI.
Siapa
sebenarnya yang menghasut kudeta,dan untuk tujuan apa, tetap menjadi spekulasi.
Namun, dalam beberapa hari kudeta itu telah dilakukan lalu terjadi
kehancuran,dan pihak tentara dengan tegas telah mengendalikan situasi.
Kemudian Suharto menuduh Partai Komunis Indonesia atau PKI berada di balik kudeta, dan mulai menekan mereka.
Kemudian Suharto menuduh Partai Komunis Indonesia atau PKI berada di balik kudeta, dan mulai menekan mereka.
Setelah kudeta yang
dirancang oleh Inggris dengan memanfaatkan situasi telah berhasil, pada tanggal
5 Oktober 1966, Alec Adams, penasihat politik untuk Commander-in-Chief, Wilayah
Timur Jauh, menyarankan Departemen Luar Negeri:
“Kita harus tak ragu-ragu untuk melakukan apa yang kami bisa lakukan secara diam-diam untuk menghitamkan PKI di mata tentara dan orang-orang Indonesia.”
Kementerian Luar Negeri Inggris setuju dan menyarankan “tema propaganda yang cocok” seperti kekejaman PKI dan intervensi Cina.
Salah satu tujuan utama yang dikejar oleh IRD
adalah membuat opini tentang ancaman yang ditimbulkan oleh PKI dan “komunis
Cina”. Laporan surat kabar Inggris terus menekankan bahaya yang akan dilakukan
PKI.
Merujuk pada pengalaman
mereka di Malaya di tahun 50-an, Inggris menekankan sifat Cina dari ancaman
komunis. Roland Challis mengatakan:
“Salah satu hal yang lebih sukses yang ingin dilakukan Barat ke para politisi non-komunis di Indonesia adalah untuk mentransfer seluruh ide komunisme ke minoritas Tionghoa di Indonesia. Ternyata hal itu malah menguntungkan Inggris karena menjadi sebuah “rasis etnis”. Ini adalah masalah mengerikan yang telah dilakukan Inggris untuk menghasut orang Indonesia agar bangkit dan membantai orang Cina. “
Tapi keterlibatan Sukarno dengan PKI pada bulan-bulan setelah kudeta berdarah justru yang akhirnya menjadi kartu truf untuk Inggris. Menurut Reddaway:
“Pemimpin komunis, Aidit, melarikan diri alias buron dan Sukarno menjadi politikus, pergi ke depan istana dan mengatakan bahwa pemimpin komunis Aidit harus diburu dan diadili. Dari pintu samping istana, Sukarno selalu berurusan dengan Aidit setiap hari oleh seorang kurir. “
Sukarno dan Aidit
Informasi ini diungkapkan
oleh intelijen sinyal GCHQ Inggris (the signal intelligence of Britain’s,
GCHO).
Orang-orang Indonesia tidak memiliki teknologi
tentang “rahasia mata-mata stasiun radio” dengan bermuka dua dipantau dan
didengar oleh GCHQ, Inggris memiliki basis “penyadapan utama” di Hong Kong
untuk menyiarkan peristiwa di Indonesia.
Mendiskreditkan Sukarno adalah penting bagi
Inggris. Sukarno tetap menjadi pemimpin yang dihormati dan populer terhadap
siapa Suharto yang tidak bisa bergerak secara terbuka, sampai kondisi
benar-bener memungkinkan untuk melakukan kudeta.
Rentetan konstan dengan cakupan internasional
yang buruk dan posisi politik jungkir balik Sukarno, secara fatal telah merusak
dirinya.
Soeharto dilantik
menjadi pengendali negara setelah Sukarno mengeluarkan Supersemar.
Pada tanggal 11 Maret 1966, Sukarno dipaksa untuk menandatangani surat atas pengambil-alih kekuasaan kepada Jenderal Suharto yang dikenal sebagai Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) tahun 1966.
Sekarang, hal ini dianggap terkait erat dengan usaha kudeta dan masalah PKI, Sukarno telah didiskreditkan ke titik dimana tentara merasa mampu bertindak. PKI telah dieliminasi sebagai kekuatan yang signifikan dan kediktatoran militer pro-Barat yang mapan.
Hal itu dilakukan tidak lama sebelum Suharto
dengan diam-diam mengakhiri kebijakan yang akhirnya tidak aktif dalam
Konfrontasi Indonesia dengan Malon yang mengakibatkan peningkatan sangat cepat
dalam hubungan Anglo-Indonesia yang terus menghangat hingga hari ini.
17.40
masehi


